Top Social

Afraid

Saturday, July 1, 2017
Alhamdulillah,

Akhir-akhir ini, aku merasakan langsung berlimpahnya kasih sayang yang Tuhanku berikan kepadaku, yang membuatku amat bahagia dan bersyukur atas segalanya.

Yup, memang Tuhanku selalu memberi hambanya nikmat, rezeki, anugrah dan lainnya tanpa batas. Kuakui itu. Tidak ada orang yang dapat menghitung seberapa banyak yang telah Tuhanku berikan kepadaku selama 17 tahun aku hidup. Subhanallah.

***

Namun, aku takut.


Aku takut,

Karena kupikir diriku tidak berhak untuk sebahagia ini?

Karena kupikir diriku masih sangat jauh dari "sempurna"?

Karena aku sadar bahwa aku masih sangat rendah daripada mereka? Solatku masih jauh dari sempurna, tidak tepat waktu, dan aku masih memiliki 1000 alasan untuk menomor duakan hubunganku kepada Tuhan.

Aku takut akan kebodohanku sendiri. Aku takut tidak mampu membalas segala kebaikan yang Tuhanku berikan kepadaku.

***

Apakah ini karena selama 17 tahun aku 
hidup, aku baru menyadari besar dan tak terhitungnya rezeki dari Allah kepadaku?

Apakah sebenarnya selama ini memang aku diberikan beribu kesempatan oleh-Nya?

Namun, kenapa aku baru sadar sekarang?

Kenapa aku baru bersyukur?

***

Aku semakin takut.

The Importance of Knowing Yourself

Thursday, May 25, 2017

Pernahkah kamu berteman dengan seseorang yang tidak disangka berakhir menjadi teman dekat? atau, pernahkah kamu dikecewakan oleh seseorang yang kamu kira satu pemikiran? Pernahkah timbul obrolan "dulu aku kira kamu jutek banget, loh. Ternyata asik juga, ya" antara kamu dengan sahabat?

Ternyata, besar juga perbedaan "mengetahui" dan "mengenal". Sebelum kita kenal, membuka pembicaraan bisa terasa sangat sulit, apalagi kalo kita kurang supel, begitu pun partner bicara kita.

Setelah beberapa rentang waktu yang bikin kamu dan teman kamu saling kenal, barulah timbul rasa nyaman, ikatan, dan saling membutuhkan. Pembicaraan sehari-hari akhirnya terasa menyenangkan, bahkan bisa berlangsung hingga berjam-jam.

Namun, pernahkah kamu bersama seseorang cukup lama, tapi tidak pernah terasa ikatan antara kalian? pernahkah kamu berada di dalam kelompok yang terbentuk bertahun-tahun, namun kamu rasa nihilnya solidaritas? pernah berpikir kenapa terbentuk kubu dalam satu kelas, padahal hanya terdiri dari beberapa anak?

Karena setiap individu berbeda-beda, entah pemikiran, sudut pandang, karakteristik, kepribadian, dan lain sebagainya, maka sangat tidak mungkin jika kita ingin meng-"homogenisasi" kan orang-orang, yang berbeda. Bisa saja kita cocok dengan si-A, namun lain halnya dengan teman kita yang lain.

Begitu pula dengan diri sendiri. Wajib hukumnya bagi kita untuk "berkenalan dan mengenali" diri sendiri. Cara belajar efektifmu belum tentu sama dengan temanmu yang satu kelompok, begitu pula minat dan bakat.

Pasca SBMPTN, Terus Ngapain?

Friday, May 19, 2017
SBMPTN is finally over! akhirnya, setelah berbulan-bulan dan minggu-minggu hectic ini sudah selesai, gue bisa santai.


Lalu apa?


Yang lucu adalah, setelah kelarnya SBM, hari yang dahulu gue nanti-nantikan malah terasa hampa.

Yang pertama, pembuka selesainya SBM gue dimulai dengan sakit. Secara harfiah. Gue tau, seharusnya bersyukur tidak terjadi saat SBM. But still, it sucks.

Dan sekarang ini, gue malah kangen masa-masa hectic gue, masa-masa panik dan produktif (walaupun dulu gue suka kesal dan bilang kepada diri sendiri kalo gue terlalu berleha-leha) but still, gue melakukan sesuatu yang berguna, atas kesadaran sendiri, tanpa paksaan (yang awalnya dengan terpaksa) dan, I secretly enjoy those moments.

Jadi, sekarang ini masa-masa bergabut ria gue, gatau harus ngapain, dengan siklus tidur gajelas.

I probably should make a schedule.
Monday, April 17, 2017
Gonna be off for a very long time. For my dreams.

I thank God for opening up my eyes, even for once I thought this is a crazy and suicidal move.

I am grateful, for every decision I made, with no regret.

Wish me luck! 

Tulisan Sampah

Tuesday, April 11, 2017
Hancur.

Iya, itu kata yang gua rasa paling tepat untuk mendeskripsikan hari ini, yaitu hari dilaksanakannya Ujian Nasional pelajaran Matematika.

I even made a tweet. Which's rare.

Gue kira akan berjalan dengan lancar dan hasil akan sesuai dengan segala usaha yang udah gua keluarkan,

Ternyata salah.

Ujian berlangsung, banyak banget rumus yang gue lupa, hilang begitu saja. Padahal, gue rasa malam saat gua latihan lancar-lancar aja.

Tapi, apa yang gue sesalkan bukan itu sebenarnya.

Yang gue sesalkan adalah, betapa pintarnya gue mengosongkan kurang lebih SEPULUH SOAL sampai waktu habis. Gaada orang yang bisa membayangkan seberapa besar penyesalan gue ini. Kenapa gak gue isi. Padahal gue udah "coret-coret" (baca: udah gue itung, tinggal dirapihin, tinggal disalin.)

Saat waktu habis dan halaman tertutup, rasa kecewa terhadap diri sendiri itu, udah gabisa dijelasin lagi. Berapa nilai gue nanti?? apakabar ijazah SMA gue?? apalagi gue punya target ingin mengejar beasiswa luar negeri, HAHA siapa yang mau ngasih beasiswa kepada manusia teledor????

Gue nangis senangis-nangisnya selesai ujian. Yang merupakan hal baru buat gue karena pertama, gue jarang nangis didepan siapapun. Biasanya gue telen sendiri sakit hati maupun masalah gue karena gue agak susah mengekspresikan rasa sakit hati/kecewa. Gue selalu merasa cengeng jikalau nangis didepan orang lain (teman terdekat maupun keluarga, siapa pun), gue sama sekali gak masalah dengan orang-orang yang nangis disekitar gue, yang kadang malah gua encourage mereka untuk mengeluarkan emosinya, biar tenang.

Namun hari ini, gue bisa merasakan gemeterannya badan gue, gabisa ditampungnya air mata gue, sampai bagaimana acuhnya gue dengan lingkungan sekitar karena isi pikiran gue hanya satu: gue gagal.

Dan kecewanya lagi, gue melihat kemungkinan besar nilai teman-teman gue yang agak "effortless" lebih bagus dari gue. IYA LAH, mereka sempet buat ngasal jawaban. Apakabar gue yang sepuluh soal mutlak diaggap salah.

Apalagi melihat orang tua gue yang punya harapan besar ke gue, melihat anaknya gabisa ngasih apa yang mereka ekspektasikan. Gue gabisa bayangin gimana ekspresi mereka nanti melihat nilai Mat gue yang kemungkinan besar doremi.

Bayangin aja, gue yakin mereka membayangkan nilai anaknya yang mereka fikir akan membanggakan. Gue tau betul kok rasanya dikecewakan. Maaf ya Ma, Yah.

Pulang sekolah, eyang menanyakan hasil ulangan, gue jawab "bisa". Berat rasanya.

Semua anak-anak eyang merupakan orang-orang yang pintar dan unggul akademiknya. Anak pertama lulusan UGM, mama lulusan UI dan anak terakhirnya lulusan ITB. Plus, cucu pertamanya lagi kuliah arsitektur UI.

Lalu ada gue, seorang failure yang cuma bisa bikin malu mama seolah-olah mama salah didik. Padahal biangnya digue sendiri.

Terus gue bimbel, hal yang sama terjadi dua kali. Gue harus memalsukan "ujiannya lancar", kepada orang sekitar gue. Tapi gue jadi belajar, jangan pernah menanyakan hal-hal yang sifatnya hanya bisa dijawab dengan positif.

I thought 2017 was gonna be my year. Well, it's not.

Tapi gue masih bisa merubah semua itu! Gue masih bisa berjuang! Masih ada dua pelajaran untuk diperjuangkan! Gue masih bisa memperjuangkan perguruan tinggi impian gue! Kisah hidup gue belum selesai!


Mungkin ini semua ada hikmahnya, mungkin ini cara Allah untuk membukaan mata gue, cara-Nya menunjukkan kasih sayang, dengan cara mengingatkan gue untuk bangkit, mungkin gue tipe orang yang harus diberi "musibah" untuk berubah, mungkin usaha gue belum maksimal, mungkin gue kurang bersyukur, mungkin gue kurang do'a, mungkin gue kurang solat dan mungkin, gue akan menjadi lebih baik dengan rencana indah yang udah Allah rancang untuk gue, mungkin gue aja yang masih buta untuk melihat sisi positif dari semua ini.

Ulangan

Monday, March 27, 2017
Satu kata yang sering kali gue hindari sebagai pelajar (yang bego). Dari pelajaran fisika yang 'gue-gangerti-lagi-musnahkan' hingga pelajaran bahasa inggris, favorit gue (hanya gue males mikir dan baca teks narasi,yang sebenarnya pendek). 

Dari kelas 10 sampe kelas 12 semester awal, gue paling males kalo denger kata ulangan. Karena gue mikir, untuk apa?

Mungkin seorang 13 tahun Rere yang masih SMP bakal membenarkan eksistensi ulangan sebagai tolak ukur kemampuan pelajaran, karena sampai SMP, gapernah gue merasakan yang namanya nyontek terang-terangan. Dulu, jaman SMP kalo lo mau nyontek harus 'pinter' (walau nyontek merupakan tindakan pembodohan) dan gaada yang namanya KOMPROMI. Jaman SMP, saat ulangan apapun satu kelas hening, tanpa suara.

Lalu gue dimasukkan ke SMA Negeri (bukan menggeneralisasi. Banyak kok sekolah negeri  yang bagus, pun banyak sekolah swasta abal-abal) dan merasakan langsung perbedaan yang sangat jelas. Gue inget banget pertama kalinya menjalani UTS, deg-degan abis waktu itu. Semalaman gue belajar buat esok hari karena ketakutan nilai jeblok.
Keesokan harinya UTS dimulai, betapa kagetnya gue. Karena  setiap ujian semester campur angkatan, jadilah kelas gue bareng kakak kelas. Dan pengalaman pertama gue— satu kelas, ramenya gak kayak suasana ujian lagi, suasana pasar! Dalam hati gue men-judge setiap orang yang nyontek "lu ntar gede mau jadi apa kalo uts aja gini", tapi hati kecil gue merasa senang melihat jalan keluar permasalahan 'nilai jeblok' gue.

Tapi ada aja pandangan dari sebagian besar (atau semua) temen-temen gue yang menurut gue aneh, namun selalu gue anggukin karena gue males menjelaskan panjang lebar, yaitu tentang tolak ukur kebaikan guru. Jadi, bagi mereka ini definisi guru yang baik ialah guru nyantai, guru yang mengizinkan anak muridnya nyontek, dan guru yang jahat? Ya sebaliknya.

Padahal kalo dipikir-pikir, kenyataannya justru berbanding terbalik. Guru terjahat adalah guru yang membiarkan anak muridnya terjun ke lubang budaya mencontek, membiarkan mereka tersesat dan terlena nikmat sementara sehingga mereka gatau harus berbuat apa ketika dihadapi ujian sesungguhnya. Murid dibiarkan santai saat ujian, alhasil mereka mikir "ngapain gue capek-capek belajar, toh besok juga tinggal nanya" (karena gue pernah bermindset seperti itu)

Dengan gue diperkenalkan cara-cara problem solving seperti inilah yang bikin gue mempertanyakan esensi dari ulangan itu sendiri. Toh murid-murid pun mencontek. Ulangan udah gak bisa jadi tolak ukur pengetahuan melainkan kemampuan lirik-lirik siswa. Bagus-jeleknya nilai lo bukan lagi bergantung lo pinter atau bego, tapi lo bacot gak dikelas dan dapet pengawas killer/gak.

Memang, semua itu balik lagi ke diri sendiri. Apakah lo mau mengikuti arus kesesatan atau melawan arus yang sangat deras, apa lo mau nilai bagus semata-mata demi pujian guru maupun hadiah dari orang tua, atau, apa lo mau bangga dengan nilai 78 lo yang udah lo perjuangkan dengan mati-matian? tanpa pujian maupun imbalan, namun kepuasan yang sifatnya pribadi?

Loving our job

Monday, March 20, 2017

Gue masih inget banget, gimana gue dulu sangat meng-ogah kan profesi guru. ngga, gue gak menyepelekan atau menganggap pekerjaan guru merupakan sesuatu yang "buruk". Apa yang gue maksud ialah gue "mantep gak mau jadi guru. 100%".

Dulu gue mikir, gila aja jadi guru. Harus penyabar banget. Pressurenya kebanyakan! dari siswa yang bandelnya gak ketolongan, penggibahan kesana-kemari, dan, sepengalaman gue, pasti ada aja satu julukan untuk setiap guru, sebaik dan se-suci apapun pahlawan tanpa jasa itu. Entah cara ngajarlo yang aneh, suara lo yang over merdu, dosa lo ke seorang murid, mungkin lo tukan tilep duit (yang padahal faktanya pun nihil) atau emang lo guru yang gabener. Pokoknya, disatu sekolah itu, manusia yang paling berdosa ialah satu: guru. Sebagaimanapun kita didorong untuk menganggap bagaimana mulianya pekerjaan seorang guru itu.

Guru merupakan orang yang paling "disegani" dilingkungan sekolah. Bener banget, dan gue sengaja ngasih tanda kutip karena, definisi disegani disini, yah, ber-tanda kutip.
Segan dalam konteks ini bukanlah respect, tapi lebih mengarah kepada ketidak-sukaan. Disekolah gue, ada seorang guru yang dibenciii banget karena pertama: dia bau (yang nanti bakal gue ceritain detilnya) dan kedua: etah murid maupun guru melihat dia sebagai sesuatu yang gapenting didengar. Dan dia paling hobi berceramah. Jadi kebayang lah kalo dia ngomog ke satu sekolah, suaranya asal lewat kuping kita semua.

Terus lagi, pressure at work. Jadi pernah suatu waktu gue remedial matematika (oke) saat jam gabut diruang guru. Pas banget gue satu-satunya murid saat itu. Sumpah, gue gak ada niat nguping sama sekali, tapi rumpi-rumpinya itu, lho. NYARING BENER. Gila, mungkin tanggapan tiap orang menanggapi omongan yang menusuk beda-beda, tapi kalo gue diposisi guru yang 'ter-gibahi', mungkin kepala gue udah botak sekarang. Gausah segala cukur-cukur.

Diatas baru antar-guru. Belum lagi guru yang nyebar cancer ke murid. Katakan ada dua orang guru; Jono dan Joni. Si Joni ini terkenal paling sering bolos ngajar, ngasih denda kemuridnya, dan numpang absen. Lalu suatu saat Jono masuk kelas dan ngeluarin unek-uneknya tentang Joni. Emang, dia gak sebut nama. Tapi dia kasih obvious hint yang pasti semua orang tau siapa yang dimaksud. Keep in mind, gue  tadi gak nyebut gender. Jadi ini bisa kalian apply ke guru laki maupun wanita.
Oh ya, satu lagi. Yang satu ini lucu dan kasian banget. Tapi gue gamerasa kasian disaat itu karena gaada yang mengasihani dia. Seolah-olah beliau bukan orang yang patut dikasihani.
Jadi, anggap saja Rani dan Mamang, dua guru yang bertanggung jawab atas murid kelas gue saat Goes to Campus (acara pergi kekampus-kampus yang waktu itu makan waktu satu minggu karena kita sampai Jogja)
Jadi, si pak Mamang ini bau. Dan bu Rani, dengan santainya, juga sigap mengambil perfume dari tas tentengnya dan dengan entengnya menyemprotkan perfume kebadan pak Mamang.
Alhasil, semua anak ketawa dan bersorak sambil ada beberapa yang berbisik "semprot lagi, bu". Sesekali pak Mamang menyadari ada yang mengganjal dan nengok, seisi bus langsung pura-pura noleh kejendela.

Masih banyak lagi, deh kejadian rese lainnya yang gue yakin semua orang pun ngalamin. Beragam kejadian diatas dan ratusan kejadian lainnya yang gabisa gue tulis disini karena mungkin kalo gue tulis semuanya bisa setebel kbbi dan tangan gue gak mampu nulis sebanyak itu lah yang bikin gue mateng gak mau jadi guru. 

***

Sampai suatu hari, 1000 impresi negatif gue berubah karena beberapa sosok inspiratif ini yang jumlahnya bisa dihitung satu jari tangan. Ya, satu jari tangan.

Dulu mama pernah cerita, "makanya, nggak bersyukur gimana lagi mama. Kalo badan lagi gaenak atau stress, obatnya yaa bulu tangkis, atau praktek (mama seorang dokter gigi)", dari situ gue pengen banget bekerja sesuai passion dan kenapa gue gak begitu tertarik dengan janji-janji 'kalo kalian masuk universitas A, kalian dijamin langsung kerja'. Hanya saja waktu mama cerita-cerita, gue masih 'amit-amit' jadi guru.

Nah, berhubung sekarang gue kelas 12, dimana dikit-dikit Try Out, ujian seabrek, tiap hari stress (sambil gangapa-ngapain) dan lainnya, satu-satunya hope gue dalam belajar yaitu lewat media online, Zenius.net. Dari situlah gue berbenak "ih, kok kayaknya ngajar tuh asik, ya" karena gue diajarin mereka-mereka ini ngerti. Dan bikin gue 'terdorong' untuk bikin orang lain ngerti juga, something like that. Sampe gue install aplikasi screen recorder haha (kebetulan gue punya tablet semacam untuk menggambar). Terus gue coba kan, ternyata agak sulit. Mungkin karena hand writing yang tiap hari gue kerjain bak cakar ayam setengah sadar, ketika dikerjakan via tablet ya, seperti cakar ayam kena rabies (emang ada?).

Inspirasi kedua gue yaitu guru biologi gue sendiri. Cinta banget deh sama doi. Panggil aja bu Mawar. Padahal, gue bukan murid favorit-favorit amat, beliau juga gaterlalu deket sama gue. Hubungan kita standar, lah. Antar guru-murid. Tapi passionnya dia itu loh, gue salut abis! Yang gabisa gue deskiripsikan dengan kata-kata.

Terus, suatu saat dia nyeletuk, "kalian yang cewe-cewe jadi guru aja, enak loh ..," sambil cerita-cerita. Gue merhatiin doi bicara bak orang yang bersyukur banget berprofesi sebagai guru (yang gue kira sangat jarang).
Dari situ gua mikir, iya juga, ya. Ternyata, apapun pekerjaan kita, kalo kita tulus dan passionate, kerjaan itu pun pasti gaakan jadi beban. Beda banget sama guru-guru lain yang ngasih impresi negatif ke gue. Yang bawaannya males, sering bolos, dan satu ini yang paling ngefek, ngeluh. Entah disosmed maupun cerita langsung ke murid. Entah ngeluh tentang ke-unfair-an sekolah sampe menggibahi rekan kerja.

12 pm

Sunday, March 12, 2017
Lo pernah gak sih, sedang diposisi yang sangat crucial dimana satu menit yang lo buang itu sangat disayangkan? Oke, gue sebut aja literally 7 hari lagi lo US dan dihari itu juga lo mulai jatuh cinta kepada hal yang sangat distracting tapi sulit untuk dijauhi?

It's not a person I was talking about, but how I foolishly started to love blogging whilst UN and friends are waiting for me.

Bener-bener gak ngerti lagi kenapa gue sangat sulit memfokuskan tujuan, selalu distracted by something then ended up being productive over something unnecessary.

By the way, sekarang jam 12 pas tengah malem dan besok simulasi UNBK pelajaran biologi. Yah bisa ditebak, lah tipikal gue. Barusan aja gue udah duduk manis dispot belajar gue sembari minum kopi biar bisa begadang belajar (rencananya) namun, my brilliant self malahan sibuk sendiri browsing hal-hal yang gak esensial dan sekarang badan capek tapi mata masih segar. Alhasil disinilah gue sambil tidur nulis via hp sembari pasrah.

Update:

Simulasinya surprisingly lancar! gue sama sekali ngga menyangka maupun berharap bakal lancar, loh. Walau segi score gue gatau bakal pass atau ngga (karena gak dikasih liat, huh) tapi gue ngerjain pun sisa kurang lebih 10 dari 40 nomor! dan 10 pun bukan 100% gue gak ngerti, namun ragu-ragu.

Tetep ya, gak oleh berbesar hati karena gue sadar kalo sedikiit banget ilmu yang udah gue kuasai. Btw update ini ditulis h+1 selesai gue melaksanakan simulasi UNBK, wish me luck! :)


Blogger over WordPress?

Halo!
Jadi, setelah berfikir panjang gue memutuskan untuk pindah lagi ke blogger.

Kenapa blogger?

Karena gue medit. Mungkin.

Sebelum gue memutuskan untuk mengaktifkan kembali blog gue ini, gue sempat memposting banyak konten di WordPress, which is a "great" platform I must say.

Kenapa pake petik dua? karena WordPress sangatlah sempurna bagi mereka yang: pertama, senang menulis. Maksud gue disini yaitu orang-orang mengedepankan konten melebihi estetik, dan menurut gue bagus sekali prinsip seperti itu. Juga, feed pembaca WordPress menurut gue sangat, hmm, nyaman? kalo kalian user medium, kurang lebih seperti itu layoutnya (sebenernya disebut 'reader' tapi bagi yang bukan pengguna WordPress gue rasa gak akan ngerti maksud yang gue omongin)

Kedua, WordPress merupakan platform terfleksibel se-internet raya. Kalo dulu lo pengguna wordpress.com (versi simple nan gratisan) lalu pengen bikin web yang lebih serius, di WordPress bisa banget! lo bisa pindah ke wordpress.org (self-hosting) yang isinya bisa lo acak-acak sesuka hati.

Namun, tetapi, sayangnya...

Untuk mendapatkan kebebasan itu, lo harus bayar. Sebenernya sih nggak seberapa bagi sebagian orang, apalagi, banyak web hosting menawarkan harga yang relatif murah (sepenelusuran gue dulu yang termurah: bluehost). Yah kawan, murah itu relatif. Bagi gue, yang hanya menggunakan blog sebagai media 'iseng-iseng' dan hobi, memodalkan 10 ribu per bulan pun gue rasa mahal.

Dan benar, WordPress gives their users loads of opportunities setting up their sites, tapi ribet banget, cuy! (sebenernya nggak kok, bagi gue aja ribet). Kenapa hanya bagi gue?

Satu, lo harus install segala macem ke pc lo utuk ngotak-ngatik site lo. Which is sebenernya (dan seharusya) mempermudah. Tapi, laptop pribadi gue merupakan laptop hadiah yang memorinya sangat terbatas. Gue harus mikir plus uninstall macem-macem sebelum masuk step pertama. Bagi gue itu too much.

Kedua, gue orangnya paling hobi ngotak-atik tampilan blog. Karena gue medit prihal blogging matters dan gue banyak maunya, jadi nggak jarang waktu gue habis berjam-jam scrolling Google berbekal keyword "free wordpress.com theme responsive" dan kawan sejenisnya. (emang tata kalimat gue sangat berantakan kalo sedang browsing. Toh resultnya hanya berdasarkan keyword aja, jadi gausah kebanyakan mikir. Botak ntar)

Nah, blogger ini mencukupi kebutuhan gue. Ya, cukup lah. Walaupun di blogger gue gak memiliki hak penuh atas blog gue (di wordpress.org site lo bener2 milik lo, satu lagi nilai plus) namun setidaknya gue bisa agak puas ngotak-atik cantik jurnal virtual gue ini.

Yah jadi gitu kisah dibalik blog gue satu ini. Semoga gue bisa konsisten ya.