Top Social

Ulangan

Monday, March 27, 2017
Satu kata yang sering kali gue hindari sebagai pelajar (yang bego). Dari pelajaran fisika yang 'gue-gangerti-lagi-musnahkan' hingga pelajaran bahasa inggris, favorit gue (hanya gue males mikir dan baca teks narasi,yang sebenarnya pendek). 

Dari kelas 10 sampe kelas 12 semester awal, gue paling males kalo denger kata ulangan. Karena gue mikir, untuk apa?

Mungkin seorang 13 tahun Rere yang masih SMP bakal membenarkan eksistensi ulangan sebagai tolak ukur kemampuan pelajaran, karena sampai SMP, gapernah gue merasakan yang namanya nyontek terang-terangan. Dulu, jaman SMP kalo lo mau nyontek harus 'pinter' (walau nyontek merupakan tindakan pembodohan) dan gaada yang namanya KOMPROMI. Jaman SMP, saat ulangan apapun satu kelas hening, tanpa suara.

Lalu gue dimasukkan ke SMA Negeri (bukan menggeneralisasi. Banyak kok sekolah negeri  yang bagus, pun banyak sekolah swasta abal-abal) dan merasakan langsung perbedaan yang sangat jelas. Gue inget banget pertama kalinya menjalani UTS, deg-degan abis waktu itu. Semalaman gue belajar buat esok hari karena ketakutan nilai jeblok.
Keesokan harinya UTS dimulai, betapa kagetnya gue. Karena  setiap ujian semester campur angkatan, jadilah kelas gue bareng kakak kelas. Dan pengalaman pertama gue— satu kelas, ramenya gak kayak suasana ujian lagi, suasana pasar! Dalam hati gue men-judge setiap orang yang nyontek "lu ntar gede mau jadi apa kalo uts aja gini", tapi hati kecil gue merasa senang melihat jalan keluar permasalahan 'nilai jeblok' gue.

Tapi ada aja pandangan dari sebagian besar (atau semua) temen-temen gue yang menurut gue aneh, namun selalu gue anggukin karena gue males menjelaskan panjang lebar, yaitu tentang tolak ukur kebaikan guru. Jadi, bagi mereka ini definisi guru yang baik ialah guru nyantai, guru yang mengizinkan anak muridnya nyontek, dan guru yang jahat? Ya sebaliknya.

Padahal kalo dipikir-pikir, kenyataannya justru berbanding terbalik. Guru terjahat adalah guru yang membiarkan anak muridnya terjun ke lubang budaya mencontek, membiarkan mereka tersesat dan terlena nikmat sementara sehingga mereka gatau harus berbuat apa ketika dihadapi ujian sesungguhnya. Murid dibiarkan santai saat ujian, alhasil mereka mikir "ngapain gue capek-capek belajar, toh besok juga tinggal nanya" (karena gue pernah bermindset seperti itu)

Dengan gue diperkenalkan cara-cara problem solving seperti inilah yang bikin gue mempertanyakan esensi dari ulangan itu sendiri. Toh murid-murid pun mencontek. Ulangan udah gak bisa jadi tolak ukur pengetahuan melainkan kemampuan lirik-lirik siswa. Bagus-jeleknya nilai lo bukan lagi bergantung lo pinter atau bego, tapi lo bacot gak dikelas dan dapet pengawas killer/gak.

Memang, semua itu balik lagi ke diri sendiri. Apakah lo mau mengikuti arus kesesatan atau melawan arus yang sangat deras, apa lo mau nilai bagus semata-mata demi pujian guru maupun hadiah dari orang tua, atau, apa lo mau bangga dengan nilai 78 lo yang udah lo perjuangkan dengan mati-matian? tanpa pujian maupun imbalan, namun kepuasan yang sifatnya pribadi?