Hancur.
Iya, itu kata yang gua rasa paling tepat untuk mendeskripsikan hari ini, yaitu hari dilaksanakannya Ujian Nasional pelajaran Matematika.
Gue kira akan berjalan dengan lancar dan hasil akan sesuai dengan segala usaha yang udah gua keluarkan,
Ternyata salah.
Ujian berlangsung, banyak banget rumus yang gue lupa, hilang begitu saja. Padahal, gue rasa malam saat gua latihan lancar-lancar aja.
Tapi, apa yang gue sesalkan bukan itu sebenarnya.
Yang gue sesalkan adalah, betapa pintarnya gue mengosongkan kurang lebih SEPULUH SOAL sampai waktu habis. Gaada orang yang bisa membayangkan seberapa besar penyesalan gue ini. Kenapa gak gue isi. Padahal gue udah "coret-coret" (baca: udah gue itung, tinggal dirapihin, tinggal disalin.)
Saat waktu habis dan halaman tertutup, rasa kecewa terhadap diri sendiri itu, udah gabisa dijelasin lagi. Berapa nilai gue nanti?? apakabar ijazah SMA gue?? apalagi gue punya target ingin mengejar beasiswa luar negeri, HAHA siapa yang mau ngasih beasiswa kepada manusia teledor????
Gue nangis senangis-nangisnya selesai ujian. Yang merupakan hal baru buat gue karena pertama, gue jarang nangis didepan siapapun. Biasanya gue telen sendiri sakit hati maupun masalah gue karena gue agak susah mengekspresikan rasa sakit hati/kecewa. Gue selalu merasa cengeng jikalau nangis didepan orang lain (teman terdekat maupun keluarga, siapa pun), gue sama sekali gak masalah dengan orang-orang yang nangis disekitar gue, yang kadang malah gua encourage mereka untuk mengeluarkan emosinya, biar tenang.
Namun hari ini, gue bisa merasakan gemeterannya badan gue, gabisa ditampungnya air mata gue, sampai bagaimana acuhnya gue dengan lingkungan sekitar karena isi pikiran gue hanya satu: gue gagal.
Dan kecewanya lagi, gue melihat kemungkinan besar nilai teman-teman gue yang agak "effortless" lebih bagus dari gue. IYA LAH, mereka sempet buat ngasal jawaban. Apakabar gue yang sepuluh soal mutlak diaggap salah.
Apalagi melihat orang tua gue yang punya harapan besar ke gue, melihat anaknya gabisa ngasih apa yang mereka ekspektasikan. Gue gabisa bayangin gimana ekspresi mereka nanti melihat nilai Mat gue yang kemungkinan besar doremi.
Bayangin aja, gue yakin mereka membayangkan nilai anaknya yang mereka fikir akan membanggakan. Gue tau betul kok rasanya dikecewakan. Maaf ya Ma, Yah.
Pulang sekolah, eyang menanyakan hasil ulangan, gue jawab "bisa". Berat rasanya.
Semua anak-anak eyang merupakan orang-orang yang pintar dan unggul akademiknya. Anak pertama lulusan UGM, mama lulusan UI dan anak terakhirnya lulusan ITB. Plus, cucu pertamanya lagi kuliah arsitektur UI.
Lalu ada gue, seorang failure yang cuma bisa bikin malu mama seolah-olah mama salah didik. Padahal biangnya digue sendiri.
Terus gue bimbel, hal yang sama terjadi dua kali. Gue harus memalsukan "ujiannya lancar", kepada orang sekitar gue. Tapi gue jadi belajar, jangan pernah menanyakan hal-hal yang sifatnya hanya bisa dijawab dengan positif.
I thought 2017 was gonna be my year. Well, it's not.
Tapi gue masih bisa merubah semua itu! Gue masih bisa berjuang! Masih ada dua pelajaran untuk diperjuangkan! Gue masih bisa memperjuangkan perguruan tinggi impian gue! Kisah hidup gue belum selesai!
Mungkin ini semua ada hikmahnya, mungkin ini cara Allah untuk membukaan mata gue, cara-Nya menunjukkan kasih sayang, dengan cara mengingatkan gue untuk bangkit, mungkin gue tipe orang yang harus diberi "musibah" untuk berubah, mungkin usaha gue belum maksimal, mungkin gue kurang bersyukur, mungkin gue kurang do'a, mungkin gue kurang solat dan mungkin, gue akan menjadi lebih baik dengan rencana indah yang udah Allah rancang untuk gue, mungkin gue aja yang masih buta untuk melihat sisi positif dari semua ini.
